Selamat Datang di Portal Pendidikan

ANALISIS WACANA DAN ANALISIS WACANA KRITIS

Oleh: Choirul Huda, S.Pd.I., M.Pd. | Manajemen Pendidikan Islam

Istilah wacana memiliki arti terbatas dan luas. Secara terbatas, istilah wacana merujuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulis. Secara lebih luas, istilah bahasa merujuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan (Rosidi, 2007:6).

Menurut Widdowson (2004:3) wacana adalah kalimat tertulis dalam jumlah yang besar. Secara kuantitatif kalimat dan wacana berbeda, namun secara kualitatif merupakan fenomena yang sama. Wacana dan kalimat sebagai objek kajian yang sama karena tidak ada perbeaan konseptual di antara keduanya. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Widdowson ini, diketahui bahwa kalimat merupakan bagian dari wacana berdasarkan kuantitasnya. Pengertian yang dikemukakan oleh Widdowson tersebut nampaknya masih termasuk ke dalam pengertian wacana dalam arti terbatas.
Secara lebih luas Johnstone (2008:2) mengemukakan bahawa wacana merupakan bentuk komunikasi secara nyata dengan bahasa sebagai medianya. Hal ini sejalan dengan pendapat Gee bahwa wacana bukan merupakan rangaian kalimat saja. Menurut Gee (2005:21) wacana merupakan  cara mengombinasikan dan mengintegrasikan bahasa, tindakan, interaksi, cara pikir, mempercayai, menilai, dan menggunakan berbagai simbol, alat, dan objek untuk memerankan sebuah identitas sosial yang dapat dikenali.
Eriyanto (2009: 3-7) meyebutkan bahwa terdapat tiga jenis pandangan mengenai wacana. Pandangan pertama merupakan pandangan dari kaum positivisme empiris. Dalam pandangan positivisme empiris, bahasa dipandang sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pandangan kedua lahir dari kaum konstruktivisme. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi dilihat hanya sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subyek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan hubungan sosialnya. Pandangan yang terakhir adalah pandangan kritis, pandangan inilah yang mendasari lahirnya analisis wacana kritis.
Cook (1994: 3 via Eriyanto, 2009: 9) menyatakan bahwa titik perhatian dari analisis wacana adalah menggambarkan teks dan konteks secara bersama sama dalam suatu proses komunikasi. Oleh karena itu, dengan adanya sifat bahasa yang tidak netral, analisis wacana kritis perlu dikembangkan dan digunakan sebagai metode untuk membongkar kepentingan, ideologi, dan praktik kekuasaan dalam kegiatan berbahasa dan berwacana. Analisis wacana kritis berangkat dari pandangan kritisme. Analisis wacana kritis memiliki perbedaan dengan analisis wacana yang berangkat dari pandangan lain. Perbedaan analisis wacana kritis dengan analisis wacana pada umumnya adalah (1) tujuan utama analisis wacana kritis bukan untuk berkontribusi pada disiplin ilmu yang spesifik, paradigma, atau teori wacana, tetapi lebih tertarik dan terdorong untuk menganalisis isu-isu sosial politik, dan (2) analisis wacana kritis menggunakan pandangan sosiopolitikal yang eksplisit, yaitu menguak pandangan, perspektif, dan prinsip tujuan dari praktik politik tersebut (Dijk, 1993:252-253).
Menurut Dijk (2001: 252) analisis wacana kritis adalah jenis penelitian analisis wacana yang utamanya mengkaji cara penyalahgunaan kekuasaan sosial, dominasi, dan ketidaksetaraan yang berlaku, direproduksi, dan ditentang oleh teks dan pembicaraan dalam konteks sosial dan politik. Dengan pandangan kritis atau negatif tersebut, analisis wacana kritis mengambil posisi eksplisit dengan ingin memahami, mengungkap dan akhirnya menolak ketidaksetaraan sosial. Hal ini juga dijelaskan oleh Rosidi (2007:9) bahwa paradigma kritisme justru memberi bobot lebih besar terhadap pengaruh kehadiran kepentingan dan jejaring kekuasaan dalam proses produksi dan reproduksi makna suatu wacana. Jadi, maka sebuah wacana yang di dalamnya terdapat konteks, memliki kepentingan tertentu yang hendak disampaikan oleh pembuat wacana. Oleh karena itu dalam menganalisis wacana secara kritis, perlu diperhatikan  faktor dari pembuat wacana dan kepentingan yang hendak disampaikan serta diperjuangkan melalui wacana yang diciptakannya. Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut, wacana yang berupa teks, pidato, percakapan, tidak dipandang sebagai suatu yang alamiah dan netral tetapi merupakan bentuk pemertahanan kekuasaan. Oleh karena itu, analisis wacana kritis bermaksud memaparkan atau menjelaskan sebuah kepentingan suatu kelompok secara terbuka dengan menganalisis bagaimana wacana diproduksi dan merepresentasikan suatu kondisi masyarakat dalam wacana.



DAFTAR RUJUKAN
Dijk, Teun A. van. 1993. Principle of Discourse Analysis. Discourse and Society Journal. 1993. Sage (London, Newbury Park dan new Delhi). Vol. 4, No. 2 (pp. 249-283).
Dijk, Teun A. van. 2001. “Crytical Discourse Analysis”. Dalam Deborah Schiffrin, Deborah Tannen, dan Heidi E. Hamilton (ed.) The Hand Book of Discourse Analysis. UK: Blackwell Publishers Ltd.
Eriyanto. 2009. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Gee, James Paul. 2005. An Introduction to Discourse. New York: Routledge.
Johnstone, Barbara. 2008. Discourse Analysis. UK: Blackwell Publishers Ltd.
Rosidi, Sakban. 2007. “Analisis Wacana Kritis sebagai Ragam Paradigma Kajian Wacana (Critical Discourse Analysis as Variance of Paradigm Inquiry on Discourse)”. Makalah disajikan pada Sekolah Bahasa atas Prakarsa Mahasiswa Islam Komesariat Bahasa, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, pada tanggal 15 Desember 2007. Malang: Universitas Islam Negeri Malang.
Widdowson, H. G. 2004. Text, Context, Pretext. Victoria: Blackwell Publishing.
Share this post :

Posting Komentar

Contact Admin


Choirul Huda,S.Pd.I.M.Pd.
FB: Choirul at-Tarbawy
`

Flag Counter

free counters

Statistik Blog

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika