Selamat Datang di Portal Pendidikan

ANALISIS HARGA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Choirul Huda, S.Pd.I., M.Pd. | Manajemen Pendidikan Islam




A.    PENDAHULUAN
Sebagai salah satu variabel bauran pemasaran, selain produk, distribusi, dan promosi, harga juga mempunyai peranan yang sangat penting bagi pemasar untuk menjangkau pasar sasaran atau untuk menarik pembeli. Persoalan yang komplek selalu dihadapi oleh pemasar dalam upaya menetapkan harga untuk produknya
Dalam konteks ini, produk  merupakan keseluruhan jasa yang harus dihargai dalam suatu lembaga pendidikan oleh pelanggan yaitu masyarakat. Kita akan melihat bahwa kekomplekan dan pentingnya penetapan harga ini memerlukan suatu pendekatan yang sistematis, yang melibatkan penetapan tujuan dan pengembangan suatu truktur penetapan harga yang tepat. Namun, sebelum dibahas strategi penetapan harga lebih lanjut, perlu diketahui tentang apa yang dimaksud dengan harga.
Penetapan harga merupakan keputusan kritis yang menunjang keberhasilan operasi organisasi profit maupun non profit. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pendapatan bagi organisasi. Namun, keputusan mengenai harga  tidak mudah dilakukan. Semua organisasi yang berorientasi laba dan banyak organisasi nirlaba menetapkan harga atas produk atau jasa mereka. Harga disebut dengan berbagai nama. Harga merupakan elemen bauran pemasaran yang paling fleksibel (harga dapat diubah dengan cepat, tidak seperti ciri khas produk dan perjanjian distribusi).
Kesalahan yang paling umum yang pertama adalah penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya. Kedua, harga kurang sering direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. Ketiga, harga ditetapkan secara independen dari bauran pemasaran lainnya dan bukannya sebagai unsur intrinsik dari strategi penentuan posisi pasar. Keempat, harga kurang cukup bervariasi untuk berbagai macam jasa.
Dari latar belakang tersebut yang berinklusi bahwa harga  mempunyai peranan yang sangat krusial dan harus ditetapkan secara efektif, maka makalah ini akan membahas tentang analisis harga dalam jasa pendidikan islam.




B.     PEMBAHASAN
  1. Pengertian
Swastha mendefinisikan harga sebagai jumlah yang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta  pelayanannya.[1] Menurut Kotler & Armstrong Harga adalah jumlah yang ditagihkan  atas  s uatu  produk  atau  jasa,  atau  jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan  suatu  produk  atau  jasa.  Harga  merupakan  sejumlah  uang  yang  harus dibayarkan oleh  konsumen untuk  mendapatkan suatu  produk/jasa.[2]  Alma[3]  mengutip pendapat  dari  Saladin  Oesman  bahwa unsur  bauran  pemasaran  yang  penting  lainnya  adalah  harga  yang  merupakan jumlah  uang  yang  harus  dibayarkan  oleh  konsumen  untuk  mendapatkan suatu produk. Sedangkan Wijaya [4] menyatakan bahwa harga (price) adalah pembiayaan  yang  membandingkan  pengeluaran   dengan  pendapatan  pelanggan jasa pendidikan   dan  penentuan  harga  atau  yang  dikenakan  ke  pelanggan  jasa pendidikan. Harga  merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan/lembaga. sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, tempat, promosi) menyebabkan timbulnya biaya.
Dari berbagai pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa harga pendidikan  (price education) adalah pembiayaan  yang dikeluarkan  oleh pelanggan jasa pendidikan  untuk  menikmati  jasa pendidikan  yang ditawarkan  oleh lembaga pendidikan   atau   perguruan  tinggi   sesuai  dengan   kualitas   dan   ekuitas   jasa pendidikan yang diberikan kepada pelanggan pendidikan.
Harga   merupakan   salah  satu  unsur  bauran  pemasaran  jasa yang  paling kelihatan,  dapat  dikendalikan,  dan  fleksibel, karena  harga  dapat  diubah  dengan cepat tidak seperti unsur produk  dan saluran distribusi.[5]  Harga  dikatakan sebagai unsur  bauran  pemasaran  yang  paling  kelihatan,  karena  setiap  orang,  baik yang berada   di  dalam  internal   organisasi  pendidikan   maupun   masyarakat  sebagai pelanggan   pendidikan,   akan  melihat   seberapa   besar  harga   pendidikan   yang ditawarkan.  Harga  merupakan  satu-satunya  unsur  bauran  pemasaran  jasa yang menghasilkan pendapatan, sedangkan unsur-unsur bauran pemasaran lainnya memerlukan  biaya. Oleh karena itu, unsur yang menurut para ahli paling kelihatan adalah mengenai harga (price).
Istilah  “harga”  dapat  ditemui  dengan  berbagai  sebutan,  bergantung pada sifat hubungan antara pelanggan dan penyedia jasa dalam melakukan pertukaran.[6] Sekolah atau perguruan tinggi menggunakan istilah SPP (tuition) konsultan profesional  menggunakan istilah fee (honor), perbankan  menggunakan istilah ser- vice change (biaya jasa), jalan tol atau jasa angkutan menggunakan istilah tarif, bro- ker (pialang  saham) menggunakan istilah komisi, apartemen  menggunakan istilah sewa, asuransi menggunakan istilah premi, dan lain sebagainya.[7]
Pusdiklat   Depsiknas   sebagaimana   yang   dikutip   oleh   Wijaya[8] menyebutkan  istilah  harga  jasa dalam  dunia  pendidikan  adalah  sebagai  “biaya pendidikan”.  Biaya pendidikan adalah nilai rupiah dari semua sumber daya (input) dalam bentuk  natura  (barang), pengorbanan, dan uang,  yang dikeluarkan  untuk semua  aktivitas  pendidikan.   Dalam   hal  ini  biaya  pendidikan   meliputi   biaya pendidikan   pada  jenjang  sekolah  dasar  (SD)   atau  madrasah  ibtidaiyah  (MI); sekolah menengah pertama (SMP) atau madrasah tsanawiyah (MTs); sekolah menengah  atas (SMA)  atau madrasah  aliyah (MA);  sekolah menengah  kejuruan (SMK)   atau  madrasah   aliyah  kejuruan   (MAK);   dan  perguruan  tinggi   yang meliputi jenjang Diploma  (D1-D4), jenjang Sarjana (S-1), jenjang Magister (S-2), dan  juga  jenjang  Doktor  (S-3).  Biaya pendidikan  merupakan  biaya pendidikan secara keseluruhan,  yang meliputi  biaya-biaya yang dikeluarkan pada semua ting kat mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat pusat.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Harga.
a).    Biaya;
Biaya merupakan dasar dlam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya, apabila suatu ingkat harga melebihi semua biaya, baik biaya produksi, biaya operasi maupun biaya non operasi, akan menghasilkan keuntungan. Jadi, berapa pun harga yang ditetapkan, pasti diperhitungkan pada biayanya
b).    Tujuan ;
Penetapan harga suatu barang sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Setiap perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya. Tujuan-tujuan ya ng hendak dicapai tersebut antara lain:
a.       Laba maksimum;
b.      Volume penjualan tertentu;
c.       Pengusaan pasar atau pngsa pasar tertentu;
d.      Kembalinya modal yang tertananm dalam jangka waktu tertentu
c).    Pengawasan pemerintah.[9]

  1. Harga Jasa Pendidikan Islam.
Seluruh biaya produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk disebut Harga Pokok Produk.[10] Dalam konteks pendidikan islam, seluruh biaya yang digunakan dalam lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan  lembaga pendidikan tersebut dinamakan Harga pokok Jasa Pendidikan. unsur-unsur penetapan harga pendidikan meliputi pertama ialah pembiayaan (costing) jasa pendidikan, yaitu membandingkan pengeluran sekolah dengan manfaatnya bagi pelanggan jasa pendidikan. Kedua penetapan harga (pricing) jasa pendidikan, yaitu penerima jasa pendidikan.  penerima jasa pendidikan akan dikenakan  harga jasa pendidikan tertentu sesuai dengan tujuan sekolah. Ada tiga aspek penetapan harga jasa pendidikan : diferensiasi jasa pendidikan, faktor-fak tor penentu jasa pendidikan, serta biaya pengembangan produk jasa pendidikan[11]
Aktivitas penentuan harga jasa pendidikan  memainkan  peran penting  dalam proses  bauran  pemasaran  jasa pendidikan  karena  aktivitas penentuan harga  jasa pendidikan  terkait  dengan  pendapatan yang  akan  diterima  sekolah.  Keputusan  penetuan  harga jasa pendidikan juga penting untuk menentukan seberapa jauh jasa pendidikan  dinilai pelanggan jasa pendidikan  dan membantu proses pembentukan citra sekolah dan perguruan tinggi.  Keputusan  penentuan harga jasa pendidikan juga memberikan  persepsi tertentu  dalam kualitas jasa pendidikan  yang diberikan sekolah dan perguruan tinggi. Dengan  demikian, keputusan  penentuan harga jasa pendidikan   harus   sejalan  dengan   strategi   pemasaran   jasa  pendidikan   yang diterapkan di sekolah.
Alma menyatakan bahwa harga untuk jasa  pendidikan   sangat  dipengaruhi  oleh  mutu dari produk yang ditawarkan.[12] Jika  mutu produk tinggi, maka calon pelanggan bersedia untuk membayar lebih mahal,  selama  masih  berada  dalam  batas keterjangkauan mereka. Jadi Faktor utama yang menentukan dalam penetapan harga adalah tujuan suatu lembaga pendidikan. Tujuan tersebut bisa berupa maksimalisasi laba, mempertahankan kelangsungan hidup pendidikan, meraih pangsa pasar yang besar, menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi persaingan, melaksanakan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, harga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan pendidiakan untuk mendapatkan jasa pendidikan yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan harga di suatu lembaga/organisasi, antara lain adalah SPP, biaya pembangunan, dan biaya laboratorium, pemberian beasiswa, prosedur pembayaran dan syarat cicilan.[13]
Harga pendidikan merupakan  biaya yang dikeluarkan oleh konsumen  untuk menikmati   jasa  pendidikan   yang  ditawarkan   oleh  institusi   pendidikan.   Para pemasar   pendidikan   di   institusi   pendidikan   perlu   mengetahui  biaya  dalam  produksi jasa dan bagaimana biaya bergerak seiring waktu dan tingkat permintaan. Tiga jenis biaya tersebut yang harus diperhatikan  adalah sebagai berikut:
a.   Fixed Cost[14]; yaitu biaya yang tidak berubah,  meskipun  ada perubahan  pada tingkat  output.  Biaya  ini  dikenal  dengan  biaya  of  being  in  business  (biaya bangunan, biaya gaji pegawai, biaya pemeliharaan  sarana dan prasarana,  dan lain-lain).
b.   Variable Cost; yaitu biaya yang berubah  seiring dengan  kuantitas  layanan jasa yang  disediakan  atau  dipasarkan.  Biaya  ini  dikenal  dengan  biaya  of  doing bussiness (biaya listrik, biaya PDAM, biaya pembelian ATK, dan lain-lain).
c.   Semi Variable Cost; yaitu biaya yang memiliki elemen yang bersifat tetap dan sebagian lagi bersifat variabel.
Pusdiklat  Depdiknas [15], mengelompokkan biaya satuan  pendidikan berdasarkan faktor-faktor berikut ini:
a.   Jenis Input
1)   Biaya satuan  pendidikan   operasi  lancar  (operational  current  cost);  yaitu biaya  input  pendidikan   yang  habis  digunakan   selama  satu  tahun  atau kurang    dan   biaya   yang   dikeluarkan    secara   berulang-berulang   per mahasiswa per tahun.  Biaya satuan pendidikan  operasi lancar terdiri  atas pengeluaran   untuk  gaji  dan  tunjangan,   buku  wajib  untuk  mahasiswa, beasiswa untuk mahasiswa baik dalam dan luar negeri, pelayanan kesejahteraan (kantin, kesehatan, transportasi, ma’had, pemondokan, penginapan, tempat  olahraga, dan lain sebagainya), pemeliharaan  gedung dan  sarana  prasarana,   serta  pengoperasioan  gedung   fisik  (listrik,  air, telepon, dan internet).
2) Biaya satuan pendidikan  investasi modal pembangunan (investment capital development cost); yaitu biaya input pendidikan  yang penggunaannya lebih dari satu tahun dihitung  per mahasiswa. Biaya satuan pendidikan  investasi modal pembangunan terdiri atas pengeluaran  untuk  pembelian  tanah dan pengembangan gedung  sekolah, kelas, dan laboraturium, peralatan  tetap, dan lain sebagainya.
b.   Sifat Penggunaan
1)   Biaya  satuan   pendidikan    langsung   (direct   cost);   yaitu   biaya   untuk kebutuhan input  yang  berkaitan  langsung  dengan  proses  pembelajaran. Biaya satuan  pendidikan  langsung  meliputi  pengeluaran  untuk  gaji guru dan tenaga kependidikan,  pembelian bahan, pendataan,  dan perlengkapan belajar, serta pembanguan gedung sekolah.
2)   Biaya satuan  pendidikan  tidak langsung  (indirect cost); yaitu biaya untuk aktivitas yang tidak berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, tetapi menunjang  proses pembelajaran.  Biaya satuan pendidikan  tidak langsung terdiri  atas pengeluaran  untuk  overhead kampus (overhead cost) atau biaya tidak  langsung  selain yang  ditanggung oleh  orang  tua  mahasiswa  dan pemerintah pusat (pusat, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan seterusnya), serta potensi pendapatan yang tidak jadi diterima karena mahasiswa bersekolah dan tidak bekerja (foregone earning).
Harga     pendidikan     menjadi     sensitif    ketika    dibicarakan     manakala pendidikan menjadi  sebuah   komoditi   persaingan   yang  semakin  ketat.   Dalam sebuah  persaingan  antar  institusi  pendidikan,   penetapan   harga  menjadi  sangat penting,  meskipun  secara idealnya  mutu  yang  baik  tidak  selalu dilihat  dengan harga   yang  mahal.   Bahkan  konsepsi   terbalik   yang  ditawarkan   oleh  sebuah pendidikan    alternatif   di   Indonesia    adalah   pendidikan    yang   bermutu   dan berkualitas tinggi ternyata murah tetapi tidak murahan.
Beberapa pendekatan dalam penetapan harga pendidikan adalah sebagai berikut:[16]  (a) pertama, penetapan  harga berdasarkan  biaya didasarkan  pada biaya plus (cost-plus pricing). Harga  jasa pendidikan  ditentukan berdasarkan biaya pendidikan yang terkait dengan aktivitas untuk menghasilkan, menyampaikan,  dan memasarkan produk  jasa pendidikan; (b) kedua, penetapan  harga pendidikan berdasarkan  persaingan.  Hal  ini  diakibatkan  dari  kompetitor pendidikan   yang semakin  meluas  dan  banyak,  maka  diperlukan  perbandingan harga  pendidikan berdasarkan harga persaingan yang pantas; (c) ketiga, penetapan  harga pendidikan berdasarkan  nilai, oleh karena penentuan harga  jasa pendidikan  sering kali tidak berhasil karena tidak adanya keterkaitan yang jelas antara harga jasa dan nilai jasa. Hal ini terjadi karena nilai jasa pendidikan  telah mengalami  fluktuasi yang sangat signifikan, sehingga masyarakat lebih mempercayai nilai daripada harga. Otomatis, masyarakat  yang lebih mementingkan nilai akan lebih condong  pada perguruan tinggi yang mengutamakan kualitas dan pelayanan. Ditinjau dari literatur yang ada, harga modal merupakan keseluruhan  harga yang digunakan dalam implementasi dari perencanaan sebuah lembaga pendidikan. Dalam sebuah lembaga pendidikan, harga modal merupakan  salah satu sector  yang harus direncanakan dengan sistematis efektif untuk terselenggaranya kegiatan di embaga pendidikan.



C.    KESIMPULAN
harga pendidikan  (price education) adalah pembiayaan  yang dikeluarkan  oleh pelanggan jasa pendidikan  untuk  menikmati  jasa pendidikan  yang ditawarkan  oleh lembaga pendidikan   atau   perguruan  tinggi   sesuai  dengan   kualitas   dan   ekuitas   jasa pendidikan yang diberikan kepada pelanggan pendidikan.
Faktor utama yang menentukan dalam penetapan harga adalah tujuan suatu lembaga pendidikan. Tujuan tersebut bisa berupa maksimalisasi laba, mempertahankan kelangsungan hidup pendidikan, meraih pangsa pasar yang besar, menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi persaingan, melaksanakan tanggung jawab sosial.



DAFTAR PUSTAKA

Alma,  Buchari.   2009. Manajemen   Pemasaran   dan Pemasaran Jasa. Bandung:  Alvabeta.
Alma, Buchari dan Ratih Hurriyati, 2008. Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Fokus Pada Mutu  dan Layanan Prima, Bandung: Alfabeta.
Dharmmesta, Basu Swastha. Strategi Penetapan Harga, Modul 7
Hurriyati,  Ratih. 2005. Bauran    Pemasaran    dan Loyalitas Konsumen. Bandung: Alvabeta.
Kotler, Philip dan  Gery Amstrong, 2008. Prinsip- prinsip  Pemasaran.  Jilid  I  Edisi  XII.  Diterjemahkan oleh Bob Sabran,  Jakarta: Erlangga.
Mulyadi, 1993. Akuntansi Manajemen, : Konsep, Manfaat, dan Rekayasa, Edisi ke 1, Yogyakarta: BPFE.
Ratnasari,  Ririn  Tri dan Mastuti  H.  Aksa. 2011. Teori  dan Kasus  Manajemen  Pemasaran Jasa, Bogor: Ghalia Indonesia.
Swastha, Basu 2004. Pengantar Bisnis Modern, Jakarta: Salemba Empat.
wijaya, David Implementasi Manajemen Keuangan sekolah terhadap kualitas pendidikan, Jurnal pendidikan penabur, 13, 2009.
Wijaya, David. 2012. Pemasaran Jasa Pendidikan, Jakarta: Salemba Empat.


[1] Basu Swastha, Pengantar Bisnis Modern, (Jakarta: Salemba Empat, 2004). 147.
[2] Philip Kotler, dan  Gery Amstrong, Prinsip- prinsip  Pemasaran.  Jilid  I  Edisi  XII.  Diterjemahkan oleh Bob Sabran,  (Jakarta: Erlangga, 2008), 345.
[3] Buchari Alma dan Ratih Hurriyati, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa
Pendidikan Fokus Pada Mutu  dan Layanan Prima, (Bandung: Alfabeta, 2008), 306.
[4] David Wijaya, Pemasaran Jasa Pendidikan, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), 77.
[5] David Wijaya, Pemasaran Jasa Pendidikan, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), 78.
[6]Ibid, 106.
[7] Ririn  Tri Ratnasari  dan Mastuti  H.  Aksa, Teori  dan Kasus  Manajemen  Pemasaran
Jasa, (Bogor: Ghalia Indonesia,, 2011), 61.
[8] David Wijaya, Pemasaran Jasa Pendidikan......, 106.
[9] Dr. Basu Swastha Dharmmesta, S.E., M.B.A, Strategi Penetapan Harga, Modul 7.
[10] Mulyadi, Akuntansi Manajemen, : Konsep, Manfaat, dan Rekayasa, Edisi ke 1, (Yogyakarta: BPFE, 1993),  17.
[11] David wijaya, Implementasi Manajemen Keuangan sekolah terhadap kualitas pendidikan, Jurnal pendidikan penabur, 13, 2009, 87.
[12] Buchari   Alma,  Manajemen   Pemasaran   dan Pemasaran Jasa. (Bandung:  Alvabeta 2009), 383.  
[13] Ratih Hurriyati,  Bauran    Pemasaran    dan Loyalitas Konsumen. (Bandung: Alvabeta, 2005), 158.

[15] David Wijaya, Pemasaran Jasa Pendidikan, (Jakarta: Salemba Empat, 2012),  117.
[16] Philip Kotler, dan  Gery Amstrong, Prinsip- prinsip  Pemasaran.  Jilid  I  Edisi  XII.  Diterjemahkan oleh Bob Sabran,  (Jakarta: Erlangga, 2008), 458.
Share this post :

Posting Komentar

Contact Admin


Choirul Huda,S.Pd.I.M.Pd.
FB: Choirul at-Tarbawy
`

Flag Counter

free counters

Statistik Blog

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika