Selamat Datang di Portal Pendidikan

OPERASI GANTI KELAMIN


A.     PENGERTIAN

Perkataan pergantian kelamin merupakan terjemahan dari bahasa inggris transeksual”, karena memang operasi tersebut sasaran utamanya adalah mengganti kelamin seorang waria yang menginginkan dirinya menjadi perempuan. Padahal waria digolongkan sebagai laki-laki, karena ia memiliki alat kelamin laki-laki.

B.     PROSES OPERASI DAN EFEKNYA

 Penggantian kelamin (transeksual) hanya memerlukan waktu dua jam saja, namun hal tersebut tidak bisa disebut sebagai operasi kecil, karena resikonya sangat besar bila terjadi kekurang telitian atau kelalaian dokter yang menanganinya.



 Dalam dunia kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin yaitu:

  1. Operasi pergantian jenis kelamin yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memliki kelamin normal.
  2.  Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti venis atau vagina yang tidak berlubang atau tidak sempurna.
  3. Operasi pembuangan salah satu dari kelamin ganda yang dilakukan terhadap orang yang sejak lahir memiliki dua organ kelamin (vagiana dan penis).[1]

Pada operasi penggantian kelamin, penis (dzakar) dan scrotum(buah dzakar atau buah pelir) serta testis (tempat produksi sperma) dibuang. Sedangkan kulit scrotan digunakan untuk mnutup liang vagina(faraj); dan untuk pembuatan clitoris (klentit), diambil sebagian dari penis yang telah terbuang tadi.

Bila dokter tidak hati-hati dan cermat menangani bisa saja terjadi hal-hal sebagai berikut:

a)            Tembusnya anus atau tempat kotoran, sehingga mestinya kotoran keluar melalui dubur, tetapi justru melewati liang vagina buatan itu. Maka dari itu kedalaman lubang vagina harus disesuaikan dengan anatomi tubuh, tapi kebanyakan di Indonesia kedalaman vagina hanya mencapai antara 10 sampai 15cm.

b)            b)      Terjadinya kelainan saraf pada penderita, bila ia tidak dapat ,menahan kencing setelah operasinya selesai.

           


Kalau vagina sudah sembuh bisa difungsikan sebagaimana keinginan pasien, sehingga waria yang sudah berganti kelamin bisa melangsungkan perkawinan dengan laki-laki hanya saja ia tidak dapat hamil, karena maninya tetap berjenis sperma, tidak bisa diubah dokter menjadi ovum.[2]

Seperti contohnya Dorce Gamalama yang bernama asli Dedi, yang mengganti kelaminya dari kelamin laki-laki menjadi lelamin perempuan, karena sejak kecil Dorce memiliki sifat seperti perempuan bermain mainan perempuan. Namun ia dalam bukunya mengatakan bahwa ia menyadari bahwa ia tidak dapat menstruasi hal penting dalam diri anak gadis yang mustahil dicicipi, dan yang utama ia tidak bisa hamil.[3]


C.     HUKUMNYA

Seorang laki-laki di larang dalam Islam menyamakan dirinya dengan perempuan, dan sebaliknya perempuan di larang menyamakan dirinya dengan laki-laki: baik perilakunya, pakaianya dan lebih-lebih bila ia mengganti kelaminya.

Larangan ini menggandung dosa besar, yang banyak melibatkan pihak lain, misalnya dokter yang menggoperasinya, orang-orang yang memberikan dukungan moril dalam upaya  pengoperasianya dan sebagainya. Terlebih bagi waria yang menggunakanya untuk hubungan seks dengan laki-laki karena sama saja hukumnya dengan perzinaan. Dan berikut ini, dapat dikemukakan dalam satu hadits yang dapat di jadikan dasar diharamkanya perbuatan tersebut


ﺍﺮﺑﻌﺔ ﻴﺼﺑﺤﻭ ﻓﻰ ﻏﺿﺏ ﷲ ﻭﻴﻌﻤﺴﻭﻦ  ﻓﻰ ﺴﺧﻄ ﷲ ﻗﻟﺖ ﻤﻦ ﻫﻡ ﻴﺎ ﺮﺴﻮﻞ ﷲ ﻗﺎ ﻞ: ﺍﻟﻤﺘﺸﺑﻬﻭﻦ ﻤﻦ ﺍﻟﺮﺠﺎﻞ ﺑﺎ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺸﺑﻬﺎ ﺖ ﻤﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺑﺎﻟﺮ ﱢﺟﺎﻟﻭ ﺍﻟﺬﻯ ﻴﺄﺗﻰ ﺍﻟﺑﻬﻴﻤﺔ ﻭﺍﻟﺬﻯ ﻴﺄﺗﻰ ﺍﻟﺮﱢﺠﺎﻞ .ﺮﻭﺍﻩ ﺍﺑﻴﻬﻗﻰ                                                                                 

Artinya:

            Empat golongan yang pagi-pagi mendatangi kemarahan Allah, dan berangkat pada sore hari menemui kemurkaan-Nya. Maka saya berkata(salah seorang sahabat bertanya): siapkah mereka yang di maksud itu hai Rosulullah? Nabi menjawab: laki-laki yang menyamakan dirinya dengan perempuan, dan perempuan yang menyamakan dirinya dengan laki-laki, serta orang yang menggauli binatang dan sesama laki-laki. H.R. Al Baihaqy.


            Begitu pula orang yang terlibat langsung atau tidak langsung terhadap upaya penggantian kelamin, termasuk dosa besar berdasarkan Qaidah Fiqhiyah yang berbunyi:

ﻤﺎ ﺤﺮﻡ ﺍﺧﺪﻩ ﺤﺮﻡ ﺍﻋﻄﺎﺅ ﻩ                                                        

Artinya:

            Apa-apa yang di haramkan menerimanya, di haramkan pula memberinya.

Maksud kaidah ini adalah seorang waria diharamkn menerima penggantian kelamin dari dokter, maka di haramkan pula bagi Dokter untuk memberikan (membantu) waria itu dalam upaya tersebut.[4]

            Apabila operasi tersebut dilakukan karena sebab perbaikan dan penyempurnaan yang bukan mengganti jenis kelamin, menurut para ulama dibolehkan secara hukum syari’at Islam. Dan mengenai orang yang lahir tidak normal jenis kelaminya, maka hukum melakukan operasi kelaminya tergantung pada keadaan organ kelamin luar dan dalam.

            Adapun status hukum orang telah menjalani operasi jenis kelamin, maka tergantung kepada sifat dan tujuan operasi kelamin yang dilakukan. Apabila operasi kelamin itu dilakikan dengan tujuan tabdil dan taghyir (mengganti dan merubah ciptaan Allah). Maka identitasnya sama dengan sebelum operasi dan tidak merubah dari segi hukumnya.

            Adapun operasi kelamin yang dilakukan pada seorang yang mengalami kelainan kelamin (misalnya kelamin ganda) denggan tujuan tashih atau takmil (perbaikan atau penyempurnaan) dan sesuai dengan hukum, maka akan membuat identitas dan status hukum orang tersebut menjadi jelas. Perubahan status hukum dari waria menjadi wanita atau pria setelah operasi perbaikan kelamin dapat di benarkan oleh Islam karena alasan sebagai berikut:


1.            Allah hanya menjadikan manusia terdiri dari dua jenis yaitu pria dan wanita sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an surat an-nisa ayat 1 dan al-Hujurat ayat 13.

Artinya:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; an dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silahturahm, Sesungguhnya Allah selalu menjaga an mengawasi kamu.   


Al-Hujarat ayat 13:

Artinya:

      Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.[5]






[1] Ajat Sudrajat,Fiqih Aktual,(Ponorogo: STAIN Ponrogo Press),135-136
[2] Drs.Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah, (Jakarta: Kalam Mulia), 16
[3] Dorce Gamalama,Aku Perempuan Jalan Berliku seorang Dorce Gamalama(Jakarta: Gagas Media Pustaka,2005), 28
[4]Drs.Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah, (Jakarta: Kalam Mulia), 17-18                                              
[5] Ajat Sudrajat, Fikih Aktual,(Ponorogo: STAIN Ponorogo Press), 139-140
Share this post :

1 komentar:

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika