Selamat Datang di Portal Pendidikan

Makalah Tentang Diwajibkan Sholat Lima Waktu



STUDI QUR'AN




‌أ.        الايات القرءان
  
78. Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

‌ب.     المفردات

Saksi
:
شاهد

Menggosok dengan tangan
:
دلك
Berdiri
:
قام

Gelap
:
غشق
Matahari
:
الشمش

Malam
:
اليل
Sholat
:
الصلاة

Bacaan
:
قرءان
Ada

كان

Pagi
:
الفجر


‌ج.      محتويات الاحكام

          أ‌-          ما هي المناسبة و اسباب النزول من الايات المذكور؟
Pada ayat-ayat yang lalu, Allah swt menerangkan tekanan-tekanan yang dilakukan orang-orang kafir sebagai upaya untuk mengusir Rasulullah SAW. beserta orang-orang yang beriman dari Mekah, di antaranya dengan mengadakan tindakan-tindakan yang mempersulit gerak gerik Rasulullah dan orang-orang yang beriman di negeri itu.[2] Para kafir berusaha untuk mengeluarkan Rasul dari kota Makkah dan kemudian merencanakan pembunuhan terhadap dirinya. Dengan pertolongan Allah, Rasul dapat keluar Makkah dengan selamat, dan berkat pertolongan Allah, Rasul Akhirnya dapat kembali ke Makkah dalam keadaan menang pula.[3] Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah memerintahkan Rasulullah agar mengerjakan salat lima waktu dan shalat malam untuk memperkuat jiwanya menghadapi berbagai tekanan dan godaan dalam menjalankan tugasnya.[4]

         ب‌-        ما محتويات الاحكام من الايات؟
Ayat-ayat yang lalu menjelaskan betapa besar gangguan dan rencana makar kaum musyrikin, namun Allah menyelamatkan Rasul saw. Untuk meraih dan mempertahankan anugerah pemeliharaan Allah itu, ayat ini menuntut Nabi SAW. dan umatnya dengan menyatakan bahwa: laksanakanlah secara bersinambung, lagi sesuai dengan syarat dan sunnah-sunnahnya semua jenis shalat yang wajib dari sesudah matahari tergelincir yakni condong dari pertengahan langit sampai muncul gelapnya malam, dan laksanakan pula seperti itu Qur'an/bacaan di waktu al-fajr yakni shalat subuh.  Sesungguhnya Qur'an/bacaan di waktu al-fajr yakni shalat subuh itu adalah bacaan yakni shalat yang disaksikan oleh para malaikat.[5]
Ayat ini memerintahkan agar Rasulullah SAW. mendirikan shalat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan mendirikan shalat Subuh. Maksudnya ialah mendirikan shalat lima waktu, yaitu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh.[6]

         ت‌-        ما فضائل الصلاة الفجر في اول الوقت؟

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قال النبي صلي الله عليه و سلّم : فضل صلاة الجميع علي صلاة الواحد خمش و عشرون درجة و تجتمع ملائكة الليل و ملائكة النهار في صلاة الصبح (رواه البخاري)
Artinya:
"Dari Abu Hurairah ra. Berkata: Nabi SAW. Bersabda: "kelebihan sembahyang berjama'ah atas sembahyang seorang diri dua puluh lima derajat dan berkumpul malaikat malam dan malaikat siang pada waktu sembahyang subuh. (H.R. Bukhori).[7]

Hadist lain juga mengatakan:

روى ابو هريرة انّ النبي صلي الله عليه و سلّم قال: يتعاقبون فيكم ملائكة الليل و ملائكة النهار, ويجتمعون في صلاة الصبح, و فى صلاة العصر فيعرج الذين باتوا فيكم فيسالهم ربّهم و هو اعلم بكم , كيف تركتم عبادي؟ فيقولون اتيناهم وهم يصلون و تركناهم وهم يصلون (رواه البخاري و مسلم)
Artinya:
"Dari abu hurairah bahwasannya Nabi SAW. Bersabda: "malaikat malam dan siang bergantian dalam tugasnya. Mereka berkumpul pada waktu sholat subuh dan 'asar. Maka naiklah malaikat yang menjagamu pada malam hari, dan tuhan bertanya kepada mereka (padahal Allah lebih mengetahui tentang kamu) "bagaimana keadaan hambaku waktu kau tinggalkan?" para malaikat menjawab, "kami datang kepada mereka, mereka dalam keadaan sholat dan kami tinggalkan mereka, mereka pun dalam keadaan sholat pula"" (H.R. Bukhori dan Muslim).[8]

Mengenai keutaaman mengerjakan shalat subuh pada awal waktunya, Ar-Razi berkata, “Sesungguhnya pada waktu subuh itu manusia menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kebesaran hikmah-Nya di langit dan di bumi. Pada waktu itu, sinar matahari yang terang benderang menyapu kegelapan malam. waktu itu bangunlah orang yang sedang tidur dan panca inderanya kembali bekerja setelah terlena selama mereka tidur”.[9]
Firman-Nya: (قراّن الفجر) Qur 'an al-fajr secara harfiah berarti bacaan (al-Qur an) di waktu fajar, tetapi karena ayat ini berbicara dalam konteks kewajiban shalat, maka tidak ada bacaan wajib pada saat fajar kecuali bacaan al-Qur’an yang dilaksanakan paling tidak dengan membaca al-Fatihah ketika shalat subuh. Dari sini semua penafsir Sunnah atau Syi‘ah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah ini adalah shalat Subuh. Penggunaan istilah khusus ini untuk shalat fajar karena ia mempunyai keistimewaan tersendiri, bukan saja karena ia disaksikan oleh para malaikat, tetapi juga karena bacaan al-Qur’an pada semua raka'at shalat subuh dianjurkan untuk dilakukan secara jahar (suara yang terdengar juga oleh selain pembacanya). Di samping itu sholat subuh adalah salah satu shalat yang terasa berat oleh para munafik karena waktunya pada saat kenyamanan tidur.[10]

‌د.       الاختتام
Dari pembahsan di atas, dapat diambil kesimpulan:
  1. Pada ayat-ayat yang lalu, Allah swt menerangkan tekanan-tekanan yang dilakukan orang-ofang kafir kepada Rosulullah beserta Orang-orang beriman dan Dalam ayat-ayat berikutnya, Allah memerintahkan Rasulullah agar mengerjakan salat lima waktu untuk memperkuat jiwanya menghadapi berbagai tekanan dan godaan dalam menjalankan tugasnya.
  2. Qur'an Surat Al-Isra' Ayat 78 tersebut ini, secara implikasi memerintahkan agar Rasulullah saw mendirikan shalat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan mendirikan salat Subuh. Maksudnya ialah mendirikan salat lima waktu, yaitu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh.
  3. Ada beberapa Keutamaan dalam melaksanakan sholat subuh pada awal waktunya, seperti: disaksikan Malaikat malam dan siang serta sholat subuh adalah salah satu shalat yang terasa berat oleh para munafik karena waktunya pada saat kenyamanan tidur.


‌ه.       قائمة المراجع

Al-Ghozali, Mohammad. Tafsir Al-Ghozali. Yogyakarta: Penerbit Islamika, 2004.
Hamka. Tafsir Al-Azhar Juz XV. Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984.
RI, Departemen Agama. Al-Quran dan Tafsirnya. Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama, 2009.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.



[1] Q.S. Al-Isra' 78.
[2] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama, 2009), 525.
[3] Mohammad Al-Ghozali, Tafsir Al-Ghozali (Yogyakarta: Penerbit Islamika, 2004), 456.
[4] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama, 2009), 525.
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 525.
[6] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama, 2009), 525.
[7] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XV (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984), 109.
[8] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Quran Departemen Agama, 2009), 527.
[9] Ibid, 527.
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 526.


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika