Selamat Datang di Portal Pendidikan

Tiga aspek pendidikan untuk Mengantisipasi penyalahgunaan napza




A.    PENDAHULUAN
NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif) merupakan suatu bahan yang berbahaya bagi kesehatan.  Awalnya, diciptakan untuk dapat mengurangi sakit pasien saat ingin dioperasi dengan menimbulkan efek halusinogen. Ternyata dalam praktek di masyarakat, NAPZA disalahgunakan sehingga dijadikan sebuah obat untuk kesenangan yang jelas menyimpang dari kegunaan asli. Orang yang mengkonsumsinya mengalami perubahan secara drastis dalam dirinya, mulai dari perubahan kesadaran sampai tidak terkontrolnya susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktifitas mental dan perilaku. Selain itu juga, dapat menimbulkan rasa ketergantungan pada orang yang memakainya(http://www.scribd.com/doc/12445553/napza).
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis akan mengkaji tentang pengertian NAPZA, dampak penggunaannya, serta cara mengantisipasi penyalahgunaan tersebut melalui pendidikan di masyarakat, orang tua, dan sekolah.

B.     PEMBAHASAN
Berbicara mengenai NAPZA, sering terdengar beberapa akronim yang berkaitan erat dengan hal tersebut. Mislanya, NAZA  singkatan dari Narkotika dan Zat Adiktif. Dari akronim di atas, NAPZA mempunyai arti lebih lengkap dibanding yang lain. NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif, yang juga mempunyai pengertian sendiri-sendiri.
 Pengertian narkotika adalah suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis atu semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Pasal 1 angka 1 UU 22./Th. 1997). Pengertian psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkasiat psikoaktif melalui pengaruh  selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku (Pasal 1 angka 1 UU 5./Th. 1997). Sedangkan pengertian zat adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan psikis (Pasal 1 angka 12 UU 23.Th. 1992).

Dari definisi di atas, berimplikasi bahwa setiap bahan atau zat mempunyai dampak atau akibat yang berbeda-beda. Dampak penyalahgunaan NAPZA dapat ditinjau dari segi akibat terhadap individu dan masyarakat. Dampak yang terjadi tentu tergantung kepada jenis narkoba yang digunakan, cara penggunaan, dan lama penggunaan.
Beberapa akibat terhadap individu yang terjadi pada pemakai NAPZA adalah Euphoria, delirium, halusinasi, weakness, drowsiness, dan collapse. Akibat-akibat lain yang bisa terjadi pada pemakai narkoba adalah terjadi keracunan (toxicity), fungsi-fungsi tubuh yang tidak normal (mal function), terjadinya kekurangan gizi (mal nutrition), kesulitan penyesuaian diri (mal adjustment), dan kematian. Dampak-dampak tersebut juga dapat mengakibatkan hal-hal lebih jauh yang mengganggu hubungan antara sosial dengan orang lain. Sebagai contoh, perkelahian yang dilakukan tanpa sebab yang jelas dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelaku tidak berada dalam keadaan normal (Sasangka, Hari, 2003:25).
Permasalahan penyalahgunaan narkoba atau NAPZA semakin hari semakin memprihatinkan. Telah disebutkan di atas bahwa NAPZA secara sistematis bekerja merusak susunan saraf pusat sehingga menjadikan penggunanya secara drastis mengalami perubahan dalam dirinya. Korban-korban penyalahgunaan narkoba didominasi oleh kalangan remaja, mulai dari usia SD, SLTP, SLTA, dan bahkan ke perguruan tinggi. Untuk itu, perlu ada usaha pencegahan sedini mungkin.
Cara penanggulangan penggunaan NAPZA dapat dilakukan oleh beberapa pihak. Ada tiga aspek yang mendominasi untuk mengantisipasi penyalahgunaan NAPZA. Pertama adalah dari aspek pendidikan di sekolah atau madrasah. Madrasah mengandung arti tempat atau wahana anak mengenyam proses pembelajaran. Dari aspek madrasah dapat sedini mungkin memberikan kegiatan yang positif serta Penyuluhan dan pendidikan afektif berupa penyampaian informasi yang tepat terpercaya dan mudah dimengerti tentang NAPZA dan pengaruhnya bagi tubuh dan perilaku manusia (Yasin,Fatah, 2008:257) 
Yang kedua adalah dari aspek peranan orang tua dalam mendidik anak. Orang tua merupakan pendidikan utama dan pertama bagi anak-anak mereka. 

Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua sebagai peserta yang aktif dalam pendidikan psikis serta fisik seorang anak. Sehingga, orang tua dapat menjadi pengawas untuk menghidari anak dari bahaya NAPZA. Disisi lain, orang tua dapat membuat batasan-batasan pergaulan agar anak tidak akan melakukan pergaulan diluar peraturan yang telah dibuat. Sehingga, anak akan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalani pergaulan. (Daradjat, Zakiah, 2008:35).
Terakhir adalah dari aspek pendidikan atau pengajaran di masyarakat. Selain dari aspek pendidikan di lingkungan sekolah dan orang tua, masyarakat juga turut serta memikul tanggung jawab dalam pendidikan. Masyarakat, besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Sebagai contoh dengan dijalankannya suatu kegiatan-kegiatan positif di kalangan masyarakat, misalnya pemberian informasi tentang masalah NAPZA, penggunaan, dan akibat-akibatnya (Daradjat, Zakiah, 2008:44).

C.    PENUTUP
Dari definisi-definisi di atas, berimplikasi bahwa NAPZA mempunyai pengertian sendiri-sendiri dan juga memberikan dampak yang berbeda-beda. Secara garis besar, orang yang mengkonsumsinya akan mengalami perubahan dalam dirinya, mulai dari perubahan kesadaran sampai tidak terkontrolnya susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktifitas mental dan perilaku. Selain itu, bahan tersebut jika dikonsumsi secara terus menerus dapat menimbulkan rasa ketergantungan.
Terdapat tiga aspek untuk mengantisipasi penyalahgunaan NAPZA yang dapat sedini mungkin dalam pembentukan jati diri yang terhindar dari penggunaan NAPZA tersebut. Diharapkan ketiga aspek tersebut dapat menjadi konsolidasi dalam pembinaan, pengawasan, pemberian informasi, serta menjalankan kegiatan-kegiatan yang positif demi tercapainya pembentukan fisik dan psikis yang terhindar dari bahaya NAPZA.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika