Selamat Datang di Portal Pendidikan

Kapitalisasi Pendidikan


kapitalisasi pendidikan Adalah yang menjadi musuh dari integrasi peran guru, orang tua, dan lingkungannya dalam meraih kecerdasan yang utuh setiap anak didik. Sejak disusupi idiologi kapitalisme, 'peran sentral' seorang guru semakin dikambinghitamkan sebagai biang kegagalan dalam mendidik seorang anak. Tidak mustahil, kegagalan Anak didik tidak hanya disebabkan oleh para Guru. Kegagalan ini juga banyak disebabkan oleh tingkah laku orang tua dan lingkungannya yang kurang berpendidikan.

Dengan telah membayar sejumlah uang, orang tua dan lingkungannya telah menempatkan anak didik seperti kendaraan yang dititipkan pada sebuah bengkel. Tragisnya, kalau pun berhasil hanya ditakar dengan tolak ukur formalistik, yakni kecerdasan intelektual (IQ). Orang tua dan lingkungannya akan merasa tidak lagi rugi kalau saja nilai raportnya tidak dilumuri warna merah tanpa mau peduli pada sisi emosional-spiritual anaknya.

Hal ini lebih disebabkan oleh pandangan untung-rugi seperti transaksi jual-beli, dengan kepuasan pada kecerdasan intelektual anak didiknya. Menitipkan anak didik dianggap layak dengan ukuran material, bukan dengan rasa saling memiliki dan sesuatu yang jauh dari pengalaman proses belajar-mengajar anak didik. Karenanya kecerdasan emosional dan spiritual yang diidamkan, terlewatkan dalam iklim pendidikan yang besifat kontraktual sebagai buah dari kapitalisasi pendidikan tersebut.

Inilah yang dapat kita baca pada kapitalisasi pendidikan dewasa ini. Pendidikan dengan cepat menjadi barang dagangan yang menggiurkan bagi banyak orang. Motifnya lebih disebabkan mencari keuntungan material sebanyak-banyaknya dari Bisnis Pendidikan tanpa ambil pusing untuk apa pendidikan itu sendiri.

Pendidikan di negara kita, memang masih jauh untuk diselenggarakan ‘gratisan’ bagi warganya. Meski telah telah diterapkan peraturan untuk  memberikan dana pendidikan kurang dari 20%, Namun alokasi itupun belum cukup untuk menyelesaikan problem profesionalisasi pendidikan di negari ini. Dan hasilnya, persepsi keliru atas dunia pendidikan, sedianya jadi pelajaran penting bagi orang tua dan lingkungannya. Tanggungjawab pendidikan itu tidak hanya dibebankan pada pundak seorang guru. Tapi dialamatkan juga pada peranan orang tua dan lingkungannya itu sendiri. Jika ini bisa dimulai, kecerdasan yang utuh tidak lama lagi akan bersemayan dalam diri anak didik kita.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika