Selamat Datang di Portal Pendidikan

Dinasti Fatimiyyah


1.      Awal Pembentukan
Dinasti Fatimiyyah menyatakan dirinya sebagai keturunan langsung Hadzrat Ali dan Fatimiyyah dari Ismail anak Ja’far Sidik, keturunan ke enam dari Ali.[1] Pada tahun 860 M mereka membuat sesuatu kekuatan dengan membuat pergerakan propagandis dengan tokohnya sa’id ibn husein. Mereka secara rahasia menyusupkan utusan – utusan ke berbagai daerah muslim, terutama afrika dan mesir untuk menyebarkan islamiyat kepada rakyat. Cara inilah yang membuat landasan pertama bagi munculnya dinasti fatimiyyah di afrika dan mesir.
Pada tahun 874 M muncullah seorang pendukung kuat dari yaman bernama Abu Abdullah Al-Husein, yang kemudian pergi ke afrika utara dan karena pidatonya yang sangat baik dan berapi – api ia berhasil mendapat dukungan dari suku barbar ketama. Selain itu ia mendapat dukungan juga dari seorang gubernur ifrikiyah yang bernama Zirid. Setelah mendapatkan kekuatan yang diandalkan ia menulis surat kepada imam islamiyah untuk datang ke afrika utara yang kemudian ia diangkat menjadi pimpinan pergerakan. Pada tahun 909 M, imam islamiyat atau lebih dikenal said ibn husein berhasil mengusir ziadatullah seorang penguasa aghlabid terakhir untuk keluar dari negrinya. Kemudian, sa’id diproklamasikan menjadi imam pertama dengan gelar ubaidulah al- mahdi. Dengan demikian,berdirilah pemerintahan fatimiyyah pertama di afrika dan al-mahdi menjadi kholifah pertama yang bertempat di raqpodah daerah al-Qayrawan.[2]
Fathimiyyah adalah Dinasti syi’ah yang dipimpin oleh 14 Khalifah atau imam di Afrika dan Mesir tahun 909–1171 M, selama lebih kurang 262 tahun. Para kahlifah tersebut adalah :
1.           Ubaidillah al Mahdi (909-924 M)
2.           Al–Qa’im (924-946 M)
3.           Al–Manshur (946-953 M)
4.           Al–Mu’izz (953-975 M)
5.           Al–‘Aziz (975-996 M)
6.           Al–Hakim (996-1021 M)
7.           Azh–Zhahir (1021-1036 M)
8.           Al–Musthansir (1036-1094 M)
9.           Al Musta’li (1094-1101 M)
10.       Al–Amir (1101-1131 M)
11.       Al–Hafizh (1131-1149 M)
12.       Azh–Zhafir (1149-1154 M)
13.       Al–Faiz (1154-1160 M)
14.       Al–‘Adhid (1160–1171 M)[3]

2.      Masa Kemajuan Dan Konstribusi Terhadap Peradaban Islam
Sumbangan dinasti fatimiyyah terhadap peradaban islam sangat besar, baik dalam sistem pemerintahan maupun bidang keilmuan. Diantaranya:
a.      Bidang pemerintahan
Bentuk pemerintahan pada masa dinasti fatimiyyah merupakan suatu bentuk pemerintahan yang dianggap pola baru dalam sejarah mesir. Dalam pelaksanaanya,kholifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual.[4] menteri – menteri kekholifahan dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok militer dan sipil. Yang dibidangi oleh kelompok militer diantaranya: urusan tentara, perang, dan semua permasalahan yang menyangkut keamanan. Yang termasuk mkelompok sipil diantaranya:
1.      qadi yang berpungsi sebagai hakim dan direktur percetakan uang
2.      ketua dakwah, yang memimpin darul hikam.
3.      Inspektur pasar yang membidangi bazar, jalan dan pengawasan tinmbangan dan ukuran
4.      Bendaharawan negara, yang membidangi baitul mal.
5.      Wakil kepala urusan rumah tangga kholifah.
6.      Qori’ yang membacakan Al-quran bagi kholifah kapan saja dibutuhkan.

b.      Bidang Filsafat
Pada dinasty ini, banyak menggunakan filsafat yunani yang mereka kembangkan dari pendapat plato, aristoteles, dan ahli filsafat lainnya. Kelompok ahli filsafat yang paling terkenal pada masa dinasti fatimiyyah adalah Ikhwanu shofa. Dalam filsafatnya,cenderung membela kelompok syiah islamiyah dan kelompok inilah yang mampu menyempurnakan pemikiran yang dikembangkan mu’tazilah dalam masalah yang meliputi tentang agama, ilmu dll.
Beberapa tokoh filosof yang muncul pada masa ini antara lain:
a.  Abu Hatim Ar-Rozi, yang filsafatnya lebih banyak dalam masalah politik
b.   Abu Abdillah An-Nasafi, dengan kitabnya meliputi: Al-Mashul, Unwanuddin, UshuluSyar’i, Adda’watu Manjiyyah, seta Kaunul Alam dan Al-kaunul Mujrof.
c.    Abu Ya’qub As-Sajazi. Merupakan salah seorang penulis yang paling banyak tulisannya. Diantaranya: Asasuda’wah, Asyaro’i, kasyful Asyror, Itsbatun Nubuwah, Al-yanabi, Al-mawazin dan kitab An-Nasyroh.
d.   Abu Hanifah  An-Nu’man Al-Maghribi. Ia menulis kitabda’aimul islam al-yanabu,mukhtashorul atsar, mukhtasorul idoh, kaifayatul sholah, manhijul faroid, ar-risalah misriyah, ar-risalah datal bayan dan ikhtilafu ushulul madhabib.
e.    Ja’far ibnu mansur al-yamani. Ia menulis kitab a’wiluzakah, srao’irunnutaqo’i, asyawahid wal bayan, dan al-fitrotu wal qironaati.
f.     Hamiduddin al-kirmani. Ia telah menulis kitab uyunul akhbar, al-mashobihu fi itsbati imamah.[5]

c.       Keilmuan dan Kesusastraan
Seorang Ilmuan Yang terkenal pada masa dinasti tfatimiyya adalah yakub ibnu killis karena keberhasilannya membangun beberapa akademi keilmuan. Pada masanya, ia juga berhasil membesarkan seorang ahli fisika yang bernama muhammad al-tamimi dan seorang ahli sejarah bernama muhammad ibnu yusuf al-kindi dan ibnu salamah al-quda’i. Selain yakub ibnu killis, muncul juga tokoh ahli sastra terkenal yaitu Al-Aziz. Kemajuan yang sangat fundamental pada masa fatimiyyah ini adalah keberhasilannya membangun sebuah lembaga keilmuan yang disebut daarul hikam atau daarul ilmi yang dibangun oleh al-hakim pada tahun 1005 M. Bangunan ini dimaksudkan hanya untuk propaganda doktri kesyiahan.
Pada masa mustanshir, terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku dan 2400 Ilmunimated Al-quran. Ini merupakan bukti besar kontribusi dinasti fatimiyah bagi perkembangan budaya islam.

d.      Ekonomi dan Sosial
Di bawah Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli irak dan daerah-daerah lainnya. Hal itu disebabkan adanya hubungan dagang dengan dunia non-islam dibina dengan baik. Di samping itu, dari mesir tersendiri dihasilkan produk industri dan seni islam yang terbaik. Penyebab lain dapat dilihat dari para kholifah sendiri. Para kholifah sangat dermawan dan sangat memerhatikan warga mereka yang non-muslim. Keadaan tersebut sangat mencolok pada masa Al-Aziz yang sangat memperhatikan dan menghargai orang non-Muslim.



3.      Masa Kemunduran Dan Kehancuran
Setelah kekholifahan Al-aziz yang dikenal juga sebagai puncak kejayaan Dinasti fatimiyah, Dinasti tersebut mulai mengalami kemerosotan. Setelah Al-aziz meninggal, Abu ali Al-mansur di angkat  menggantikannya dengan gelar al-Hakim. Dalam pemerintahannya, Al hakim menerapkan beberapa kebijakan yang memicu kebencian kaum  muslim non syiah dan non muslim. Kebijakan tersebut meliputi memaksa orang Kristen dan Yahudi untuk memakai jubah hitam, mengendarai keledai dan menunjukkan tanda salib bagi orang Kristen serta menaiki lembu dengan memakai bel bagi orang Yahudi. Kesalahannya yang paling fatal adalah pernyataannya yang menyatakan diri sebagai inkarnasi tuhan serta Merusak beberapa gereja yang menyebabkan salah satu pemicu berkobarnya perang salib.


[1] Ajid tohir, perkembangan peradabandi kawasan dunia islam,  (jakarta: PT. Raja grafindo persada, 2004), 112.
[2] Ibid, 113.
[3] http://freekuliah.blogspot.com/2011/03/sejarah-peradaban-islam-pada-masa_18.html
[4] Choirul rofiq, sejarah peradaban islam, (ponorogo:STAIN ponorogo press, 2009) 214.
[5] Ajid tohir, perkembangan peradabandi kawasan dunia islam,  (jakarta: PT. Raja grafindo persada, 2004), 116-117.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : choirull | Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar | Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
Copyright © 2016. ANTOLOGI - All Rights Reserved
Template by binaaku community Modified by Choirull
Proudly powered by Retensi Akademika